Pagi itu ia sengaja tidak masuk sekolah. Bukan karena sakit. Tetapi karena sebuah laptop yang tak kunjung kembali kepadanya. Sebuah laptop yang biasa ia gunakan main game depan rumahnya. setiap jam 5 sore dan adik2nya ia telah menyiapkan meja kecil lipat (yang biasa untuk belajar) di depan pintu, karena di luarlah sinyal wifi (hotspot) baru ada dari bangunan tinggi dekat rumahnya.
Mogok sekolah, ia lakukan tak tanggung-tanggung. Kemarin pagi saat Ibunya mau pergi berangkat kerja (workshop ke diknas), selalu ditanya, “Mama, laptopnya mana?, Om endro kok lama benainya?”. “Baru dibenai om endro, belum jadi”. Kata ibunya yang siap-siap mengeluarkan motor metix berwarna merah.
Anak laki-laki yang masih tingkat SD itu mengejar ibunya yang sudah mengendarai motor sampai jalan besar (200 M, kurang lebih dari rumahnya). Sambil menangis dan berteriak-riak, “MAMA….. LAPTOPNYA… MAMA LAPTONYA”.
“iya begitu mas, ia mengejarku saat mau pergi ke diknas tadi pagi”, sore itu ibunya menceritakan. dan Armando sudah asyik dan sedikit ngambek (baru bangun tidur). Seperti biasa ia nge-game dengan adiknya.
Aku usap rambutnya, “Armando, om endro minta maaf ya, lama mengembalikan laptopmu?”. tak ada kata dari mulutnya. hanya mengangguk, iya hanya mengangguk dari laki-laki berkulit sawo coklat itu.
Armando, anak baik dan pintar. bukan maksud om endro, menahan laptopmu. hanya saja, armando kan anak baik, kakak yang baik pula buat alma, adikmu. om endro, lama mencarikan game mewarnai buat adik perempuanmu itu. Apa kamu tidak kasihan pada adik perempuanmu itu, saat kamu main game, tapi adikmu menangis karena tidak ada game kesukaannya. Apa Armando, tidak kasihan pada adik alma, saat menangis itu di marahi papa mama, “DIAM, JANGAN MENANGIS”. Armando, sayang kan sama alma, adikmu itu.
Armando, anak baik. Maafkan om endro ya…
Suatu hari, ia datang dengan muka marah, dada sempit, seakan isinya terpenuhi oleh bara api dan ia hendak menyemburkannya keluar sekaligus.
Comments