Dingin tidak sebagai halangannya untuk melangkahkan kaki. Mata mengantukpun tak sebagai alasanya. Ia berharap teman-temannya masih menikmati dinginnya fajar di atas kehangatan selimut. Masih menikmati berjuta mimpi. Tapi salah. Kekecewaan ada dalam dirinya. semakin cepat ia berjalan dengan beban yang ada dipunggungya. Dua Ibu separuh baya sudah terlebih dulu datang. Dua ibu itu tampak duduk bersila santai, berbincang sampail menoleh ke Ibu yang berjalan cepat tadi menghampirinya.
Disudut lahan, dibawah pohon pisang dan disekeliling tanaman gajah. Tempat mereka berkumpul. bukan berkumpul, tepatnya tempat yang diburu di fajar hari. Beban ia turunkan dari punggungnya. berwarna putih dan besar. Sama seperti beban teman-temannya, hanya saja warna dan bentuknya yang berbeda. Selendang ia belitkan dalam lehernya, sedikit penghilang rasa dingin. Ia senang sudah sampai dengan dua ibu yang lebih dulu datang tadi. Tatapannya jauh ke selatan. Bergerak ke arahnya semakin cepat dan tampak. Beberapa ibu lagi datang. Semakin banyak dan banyak. Senyum dan bahagia karena Ia telah selesai. Salah satu ibu membantu mengangkatkan beban yang telah terisi ke punggungnya. Selendang ia simpulkan erat di dadanya. Berjalan pelan dan membungkuk karena beratnya beban tadi. Ia bangunkan putra semata wayangnya, “Nak, ayo bangun. sholat shubuh. Ibu sudah bawa air untuk wundhu dan mandi”.
30 Sep
Keringat fajar penuh cinta
Advertisement