Kasur jemuran sudah digulung. baju-baju yang terpajang rapi sudah di entas. “oo ibu sebelah yang mengentas kasur dan baju-bajuku”. alhamdulillah, alloh menganugerahkan tetangga yang baik. banner mju mulai basah akan hujan. sawah depan rumahpun sudah selesai di bajak. sawah satunya sudah mulai tumbuh winehnya (bibit padi yg disebar).
didepan rumah melihat dan merasakan turunya air hujan. 3 murid kecil yang baik dan pintar sudah selesai mengaji (belajar). orang tua sudah mulai menunggu di depan rumah. hanya saja yang “Ryan” belum bisa membaca. anak laki-laki yang masih duduk di kelas satu itu. tidak seberuntung teman-temannya, yang mempunyai keluarga yang cukup untuk memberikan pendidikan lebih. aku yakin mereka anak yang baik dan pintar. dua temannya (lia dan ayu) membantu ia bagaimana membaca kata demi kata. iya kata demi kata. kebersamaan dan saling membantu sesama.
“ahh.. bujel (patah) pensilku”?, kata ayu sambil merengkek2 manja. “lha, pensil baru kemarin, mana?”, tanyaku pada ayu yang memakai baju kuning lengkap itu. “kata ibu, itu pensil di pakai saat aku kelas dua”, jawabnya dengan kebiasaan mengukur kepala belakangnya, perempuan mungil yang masih di bangku sd kelas satu.
“ini aku pinjemi pensilku”, tawar Ryan sambil membuka pocket pensilnya itu.
Syukur alhamdulillah, mereka sudah mulai saling membantu. saat Lia belajar menulis latin. Ayu membaca yang judulnya indahnya pelangi, yang diikuti Ryan, memang ryan belum bisa membanca. kata terucap ayu, diikuti pula Ryan. terus gantian Lia yang memabantu Ryan.
Ya Alloh, jadikan mereka anak yang sholehak dan sholeh. mudahkan mereka belajar (robbi zidna ilma). jadikan mereka anak-anak yang pandai dan cerdas.